Rabu, 01 April 2020

COVID-19, LOCKDOWN DAN KRISIS EKSISTENSIAL

Oleh: Berton Turnip

“Lockdown” menjadi kosa kata yang akrab dengan telinga hari-hari belakangan ini, sejak merebaknya wabah covid-19 yang berasal dari daratan China, khususnya di kota Wuhan di Propinsi Hubei. Banyak orang, bukan hanya orang biasa, tetapi juga para pejabat, yang mendengar kata ini tidak memahami makna sesungguhnya dan konsekuensinya.
Wikipedia mendefinisikan “lockdown” sebagai berikut
 A lockdown is an emergency protocol that usually prevents people or information from leaving an area. The protocol can usually only be initiated by someone in a position of authority.  
Lockdown adalah tindakan darurat dengan melarang orang atau informasi keluar atau masuk dari dan ke suatu wilayah. Tujuan dari tindakan ini adalah untuk membatasi penyebaran wabah penyakit, khususnya covid-19, yang sedang melanda negara-negara di seluruh dunia, dengan membatasi pergerakan manusia dari satu negara ke negara lain, atau dari satu wilayah ke wilayah lain di dalam suatu negara. Sebelum melakukan lockdown, ada beberapa langkah pendahuluan yang perlu dilakukan. Langkah pertama adalah menginformasikan berbagai tindakan yang dapat dilakukan masyarakat untuk melindungi diri dari wabah ini. Misalnya ada petunjuk tentang bagaimana mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, bagaimana memakai masker untuk melindungi dari kemungkinan terkena droplet dari orang yang sudah tertular covid-19. Dan seterusnya. Juga ada anjuran untuk physical distancing, dan work from home. Langkah berikutnya adalah melakukan karantina terbatas, yaitu dengan mengatur agar orang-orang tinggal di rumah dan tidak bepergian ke tempat-tempat keramaian. Orang hanya diperbolehkan keluar rumah untuk keperluan yang penting, seperti belanja makanan dan keperluan dasar lainnya, atau untuk berobat. Anak-anak sekolah belajar di rumah. Orang-orang dewasa bekerja di rumah. Bahkan kegiatan ibadah dilakukan di rumah. Hal ini dimungkinkan oleh tersedianya berbagai teknologi komunikasi yang memungkinkan anak-anak belajar di rumah, orang dewasa bekerja di rumah dan ibadah dilakukan di rumah.
Kalau semua langkah tersebut sudah dilakukan tetapi penyebaran virus ini masih terus terjadi dengan kecepatan yang menguatirkan, maka akan dilakukan lockdown.
Keputusan untuk melakukan lockdown bukan keputusan yang mudah. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan kalau akan dilakukan lockdown.
Pertama, kesiapan logistik, yaitu ketersediaan bahan makanan dan kebutuhan dasar lainnya dan ketersediaan alat-alat kesehatan dan obat-obatan di wilayah yang dilockdown.  Kedua, kesiapan aparat keamanan untuk memastikan bahwa lockdown dilaksanakan dengan baik. Keempat, kesiapan dan ketersediaan tenaga medis dalam jumlah yang cukup dan dengan kemampuan yang memadai. Faktor keempat ini kelihatannya justru yang paling tidak siap.  Melakukan lockdown terhadap suatu wilayah sama seperti membiarkan wilayah itu berjuang sendirian, agar wilayah lain lebih ringan bebannya. Kelima, harus diingat bahwa lockdown akan meningkatkan stress di antara penduduk wilayah yang mengalami lockdown, sehingga akan menurunkan imunitas mereka. Hal ini justru akan menurunkan kemampuan masyarakat untuk melindungi dan memulihkan diri, serta memperburuk situasi wilayah yang dilockdown. Keenam, harus diingat juga bahwa lockdown akan sangat mempengaruhi perekonomian bukan saja di wilayah yang dilockdown tetapi juga wilayah-wilayah yang memiliki hubungan perdagangan dengan wilayah yang dilockdown. Dengan kata lain, lockdown memiliki konsekuensi dan dampak yang sangat luas.
Selain kerumitan mengatasi wabah ini, ada beberapa hal yang terungkap dari adanya wabah covid-19 dan desakan untuk melakukan lockdown ini.
Ketakutan.  Hal pertama dan paling menonjol adalah ketakutan yang dialami oleh sabagian besar anggota masyarakat. Ini wajar saja mengingat bahwa virus ini begitu mudah tersebar, tidak memandang bulu dan cukup mematikan. Ketakutan akan kematian ini kadang begitu besar sampai membuat orang tidak mampu berpikir tenang dan jernih. Banyak keputusan-keputusan diambil berdasarkan ketakutan ini. Tentu saja keputusan-keputusan yang diambil karena ketakutan akan menghasilkan tindakan yang tidak masuk akal. Misalnya, ada mayat yang diterlantarkan berjam-jam karena orang-orang takut menyentuhnya. Bahkan ada tempat yang menolak orang yang meninggal karena covid-19 dikuburkan di pekuburan di tempat itu, walaupun almarhum adalah penduduk di tempat itu.
Keterpenjaraan pikiran.  Reaksi masyarakat terhadap wabah ini juga menunjukkan bahwa kebanyakan anggota masyarakat tidak mampu berpikir merdeka dan kritis. Banyak informasi yang diterima begitu saja, tanpa mengevaluasi kebenarannya. Masyarakat bukannya berusaha mencari informasi yang dapat dipercaya tentang wabah ini, mencari tahu sifat virus dan mungkin cara melawannya. Sebaliknya anggota masyarakat tertentu mulai mereka-reka cerita yang tidak berdasarkan logika. Bahkan ada ulama yang menyebarkan cerita bahwa covid-19 merupakan tentara Allah yang akan membinasakan atau mempermalukan bangsa atau etnis tertentu, khususnya bangsa dan etnis China.
Pikiran yang picik ini membuat orang sulit untuk menilai dengan kritis situasi yang dihadapi, mencari solusi kreatif terhadap masalah yang ada.
Keterpisahan dan mementingkan diri sendiri (selfishness). Dari reaksi masyakat terhadap wabah ini terungkap bahwa ikatan sosial di antara berbagai kelompok masyarakat sangat lemah. Setiap kelompok tidak merasa sebagai bagian dari kelompok lainnya, dan karena itu merasa tidak dapat mengharapkan dukungan dari kelompok lain dalam menghadapi wabah ini. Setiap kelompok merasa berjuang sendiri-sendiri.
Sehubungan dengan itu, wabah covid-19 ini juga mengungkapkan watak manusia yang mementingkan diri sendiri. Hal ini terlihat dari banyaknya orang yang memborong alat-alat kesehatan dan bahan makanan serta kebutuhan lainnya tanpa memikirkan kebutuhan orang lain. Barang-barang menjadi sulit didapatkan dan harga-harga melonjak dengan luar biasa.
Hal ini memang tidak berlangsung lama dan tidak berlaku untuk semua orang. Setelah wabah berlangsung beberapa lama, mulai muncul orang-orang yang menyumbangkan uang atau barang atau apa saja yang dapat mereka sumbangkan.
Kebohongan dan informasi palsu. Di negara di mana segala sesuatu sudah dipolitisasi, wabah covid-19 ini juga menjadi obyek politisasi. Orang-orang yang tidak suka dengan lawan politiknya menyebarkan opini dan informasi yang tidak berdasar untuk menyerang lawan politiknya itu. Media-media juga banyak yang menyebarkan opini yang membuat informasi menjadi bias.  Bukannya memberikan data dan statistik dan analisa yang dilakukan dengan kepala dingin dan tidak memihak, banyak media membuat tafsiran sendiri sesuai dengan tujuannya. Hal ini justru memperburuk penanganan wabah ini, karena tidak ada kekompakan dalam usaha-usaha untuk mengatasi wabah ini, melainkan saling menyerang dan menyalahkan.
Delusi dan krisis eksistensial. Para ilmuwan mengklaim bahwa ilmu pengetahuan (science) sudah memilki jawaban terhadap semua pertanyaan besar dan masalah manusia dan alam semesta. Wabah covid-19 ini mengungkapkan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi justru menciptakan masalah demi masalah yang kebanyakan tidak dapat dijawab atau diatasi oleh ilmu pengetahuan. Misalnya, sampai tulisan ini ditulis, para ilmuwan belum menemukan cara-cara yang manusiawi dan efektif untuk mengatasi wabah ini. Isolasi dan bahkan lockdown yang dianjurkan justru sangat tidak manusia, karena memisahkan orang terkena wabah dari orang-orang yang dikasihi dan mengasihinya. Orang yang sakit yang sesungguhnya paling membutuhkan dukungan, justru dipisahkan dari orang-orang yang dapat memberikan dukungan itu. Dalam kasus tertentu, korban yang meninggal justru diperlakukan dengan cara yang sangat tidak manusiawi: tidak dimandikan, tidak disholatkan, dibungkus dalam plastik, dan dikuburkan tanpa upacara yang layak, tanpa dihadari orang-orang yang seharusnya mengantarnya.  Tentu saja hal ini semakin menimbulkan stress yang luar biasa bagi orang-orang yang kuatir atau berpotensi tertular penyakit ini, yang pada gilirannya semakin membuatnya rentan karena menurunnya imunitas.
Wabah ini juga mengungkapkan betapa rentan eksistensi manusia. Keberadaan manusia terancam dari berbagai sudut. Begitu banyak hal yang bisa memusnahkan manusia dari muka bumi.


Minggu, 29 Maret 2020

Dalam pembelajaran tradisional, peranan pengajar adalah menyampaikan informasi dan berharap bahwa pembelajar akan menyerap informasi tersebut. Dalam pembelajaran transformasional, tidak ada pengajar. Setiap orang adalah pembelajar. Setiap orang yang terlibat dalam kegiatan pembelajaran akan saling belajar dari satu sama lain. Tetapi supaya kegiatan belajar berlangsung dengan baik dibutuhan seorang fasilitator kegiatan belajar. Fasilitator kegiatan belajar, yang biasa disebut fasilitator atau mentor atau coach, berperan merencanakan kegiatan belajar, menciptakan suasana yang kondusif untuk pembelajaran, memfasilitasi peserta melakukan interaksi dengan peserta yang lain dan dengan bahan pelajaran, serta mendorong peserta untuk melakukan penilaian atas pembelajarannya sendiri.

Tentu saja seorang fasilitator pembelajaran harus seorang yang menguasai pengetahuan atau ketrampilan yang ingin dibagikan kepada para peserta. Seorang fasilitator yang belum menguasai pengetahuan atau ketrampilan dengan baik tidak akan dapat berbagi dengan nyaman.

Dalam setiap tahap pembelajaran, kunci keberhasilan seorang fasilitator pembelajaran adalah menanyakan pertanyaan yang tepat. Pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan adalah pertanyaan-pertanyaan terbuka yang membuka kemungkinan-kemungkinan, dan mengundang diskusi dan interaksi, baik di antara fasilitator pembelajaran dengan peserta, antara peserta dengan peserta yang lain, maupun antara peserta dengan bahan pelajaran atau dengan dunia.

Ada pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan pemimpin pembelajaran kepada dirinya sendiri, dan ada pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan kepada peserta kegiatan pembelajaran. Sebagai contoh, pada tahap perencanaan pemimpin pembelajaran harus bertanya kepada dirinya sendiri pengetahuan, sikap dan ketrampilan apa yang diperlukan oleh calon peserta agar berhasil dalam kehidupannya atau tugasnya; apa yang perlu dilakukan agar peserta memperoleh pengetahuan, sikap dan ketrampilan ini.

Pada tahap pelaksanaan pembelajaran, pemimpin pembelajaran perlu menanyakan apa yang akan membuat peserta merasa aman untuk melibatkan diri dengan aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; apa yang akan mendorong peserta untuk berkontribusi dalam proses pembelajaran; apa yang akan mendorong peserta merenungkan pengalaman belajarnya dan merumuskan pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang diperolehnya.

Pada tahap evaluasi, pemimpin pembelajaran perlu menanyakan apa yang akan mendorong peserta untuk menilai dengan jujur apa yang sudah dicapainya melalui kegiatan pembelajaran yang sudah dilakukan; apa yang akan mendorong peserta untuk menerapkan apa yang sudah dipelajarinya dalam pekerjaan atau kehidupannya; apa yang akan mendorong peserta untuk selalu mengembangkan apa yang sudah dipelajarinya itu.

Selain pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan kepada dirinya sendiri, pemimpin kegiatan belajar juga harus menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang tepat kepada peserta pembelajaran.

Pada tahap perencanaan, pemimpin pembelajaran perlu menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang akan mendorong peserta menilai kemampuannya saat ini dan memikirkan apa yang masih dibutuhkannya untuk berhasil dalam tugasnya. Berikut adalah contoh-contoh pertanyaan yang dapat ditanyakan: Apa yang sudah Anda pelajari tentang tugas yang akan Anda lakukan dalam pekerjaan Anda? Apa yang pernah Anda lakukan berkaitan dengan tugas itu? Apakah ada komponen-komponen tugas yang Anda rasa masih belum menguasai sepenuhnya? Apa yang masih ingin Anda ketahui atau pelajari berkaitan dengan tugas itu?

Pada tahap pelaksanaan, pemimpin pembelajaran perlu menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang akan mendorong peserta untuk merenungkan pengalamannya sebelumnya, mencoba mendiskusikan berbagai kemungkinan untuk meningkatkan kemampuannya memecahkan masalah, dan mendorong peserta memikirkan cara-cara untuk menerapkan apa yang dipelajarinya. Pertanyaan-pertanyaan berikut mungkin dapat menolong pada tahap ini: Pengalaman apa yang pernah Anda alami berkaitan dengan situasi ini? Diskusikanlah bagaimana kelompok Anda akan menyelesaikan malasah ini? Konsep atau pengetahuan apa yang Anda pelajari dari proses ini? Bagaimana Anda akan menerapkannya dalam pekerjaan Anda?

Pada tahap evaluasi, pemimpin pembelajaran perlu menanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut: Apa yang Anda dapatkan dari pembelajaran ini yang paling berguna bagi pekerjaan Anda? Dibandingkan dengan sebelumnya, bagaimanakah tingkat pengetahuan dan ketrampilan Anda sesudah mengikuti pembelajaran ini? Bagaimana Anda akan memakai apa yang Anda pelajari dalam pelatihan ini dalam pekerjaan Anda?

Pertanyaan-pertanyaan di atas hanya merupakan sebagian dari pertanyaan-pertanyaan yang dapat menolong pemimpin dan peserta pembelajaran menggerakkan proses pembelajaran. Sebagaimana biasa, perlu kreativitas untuk menyusun pertanyaan-pertanyaan yang lebih sesuai dengan keadaan dan kebutuhan peserta pembelajaran tertentu.

BEBERAPA PELAJARAN DARI WABAH COVID-19

Oleh: Berton Halomoan Turnip
Hari-hari belakangan ini pikiran dan perhatian kita dikuasai oleh virus corona Covid-19, atau SARS Cov2, CCP virus. Sengaja saya pakai kata “dikuasai”, karena setiap orang sepertinya tidak bisa lepas dari topik virus ini. Tidak ada hari yang lewat tanpa membaca, menonton, mendengar atau membicarakan virus ini. Seluruh kehidupan kita terpengaruh oleh virus ini: sekolah, pekerjaan, hubungan kekeluargaan, bahkan hubungan di dalam keluarga. Hampir tidak ada aspek kehidupan yang tidak terpengaruh virus ini: pendidikan, kesehatan, perdagangan, transportasi, agama, budaya.
Suasana pada hari-hari ini ditandai dengan kekuatiran, ketakutan bahkan kepanikan yang meluas.  Ada juga yang mengambil keuntungan dari wabah ini. Misalnya, ada yang menjual barang-barang yang dibutuhkan dengan harga yang jauh lebih mahal. Ada yang memanfaatkan wabah ini untuk menyerang lawan politik, atau saingan bisnis, dan lain-lain. Yang paling membuat bergidik, ada orang-orang yang sengaja memperkeruh suasana dengan menyebarkan informasi-informasi yang membuat masyarakat semakin panik. Salah satunya adalah Deddy Corbuzier yang tanpa pemahaman yang memadai menyampaikan informasi-informasi yang membuat pendengarnya menjadi panik dalam video-videonya.
Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari terjadinya pandemi SARS CoV2 ini?
Pertama, dunia kita sangat rentan terhadap perubahan. Virus corona sudah sejak lama ada. Tubuh manusia sudah menyesuaikan diri dan mengembangkan kekebalan terhadap kebanyakan virus corona, seperti flu musiman yang sering menyerang manusia di seluruh muka bumi ini. Tetapi virus yang ada bisa mengalami sedikit mutasi atau perubahan di dalam kode genetiknya, sehingga menghasilkan virus corona baru yang bisa membuat tubuh kita mengalami kesulitan, bahkan berakibat fatal.
Kedua, tubuh manusia rentan terhadap serangan virus yang sudah mengalami mutasi, tetapi juga mudah menyesuaikan diri untuk menghadapi berbagai serangan yang membahayakan dirinya.
Ketiga, virus ini, sebagaimana umumnya virus corona yang lain, sangat menular. Tingkat penularannya, yang terjadi melalui droplet dari orang yang terinfeksi, sangat tinggi. Penularan virus ini terjadi dengan sangat cepat dan meluas, dan laju penularan tertinggi terjadi di tempat-tempat yang kepadatan penduduknya tinggi, dan di tempat-tempat yang memungkinkan virus bertahan lebih lama di luar tubuh manusia. Kota-kota yang padat penduduknya mengalami laju penularan yang lebih tinggi dibandingkan desa-desa yang jarang penduduknya. Wilayah sub-tropis mengalami laju penularan yang lebih tinggi dibandingkan wilayah tropis yang banyak sinar matahari.
Keempat, reaksi tubuh masing-masing orang berbeda terhadap virus ini. Ada orang yang sangat rentan, sehingga mengalami gejala yang sangat berat bahkan mematikan ketika terinfeksi virus ini. Ada yang sedang-sedang saja, sehingga hanya mengalami gejala sedang atau ringan saja ketika terinfeksi virus ini. Ada juga yang sangat kebal terhadp virus ini sehingga tidak menunjukkan gejala sama sekali ketika tertular virus ini. Sejauh ini data menunjukkan bahwa tingkat kerentanan ini berhubungan dengan umur dan adanya penyakit lain yang dialami orang yang tertular virus ini, tetapi tidak terlalu berhubungan dengan tingkat ekonomi sosialnya.  Semakin tua orang yang tertular, semakin rentan orang tersebut. Apalagi kalau orang tersebut memiliki penyakit lain atau kondisi-kondisi atau alergi yang memperburuk reaksinya terhadap infeksi virus ini.
Kelima, sikap masing-masing orang berbeda dalam menghadapi ancaman wabah. Ada yang menjadi panik, ada yang santai saja, ada yang waspada tapi tidak panik. Data menunjukkan bahwa sikap yang terlalu santai atau terlalu panik tidak produktif untuk menghadapi wabah ini. Sikap yang paling baik adalah waspada tapi tidak panik. Sikap ini memungkinkan kita untuk dengan tenang merencanakan apa yang perlu untuk melindungi diri kita sendiri dan orang lain di sekitar kita.
Keenam, keberadaan krisis sperti wabah covid-19 ini mengungkapkan watak manusia di sekitar kita. Di awal wabah ini ada ulama-ulama yang menyebut virus corona sebagai “laskar Allah” untuk membinasakan atau mempermalukan kelompok etnis tertentu. Ada juga para politikus yang mengambil kesempatan mempolitisasi wabah covid-19 ini dengan menyerang lawan-lawan politiknya. Ada orang-orang yang mengambil kesempatan untuk mendapatkan keuntungan dari adanya wabah ini. Tetapi ada juga orang-orang yang tulus, yang berjuang menolong orang lain yang tertular covid-19 atau terdampak oleh wabah ini, baik secara ekonomi maupun sosial. Ada orang-orang yang menyumbangkan tenaganya atau harta miliknya untuk membantu orang lain yang membutuhkan bantuan.
Ketujuh, keperdulian dan solidaritas masyarakat menentukan tingkat keberhasilan dalam mengatasi dampak wabah ini. Di satu sisi, di negara-negara yang penduduknya tidak terlalu perduli dengan keselamatan orang-orang lain di sekitarnya penularan dan kematian paling banyak terjadi. Di sisi lain, di negara-negara yang penduduknya perduli dengan keselamatan orang-orang di sekitarnya, yang ditunjukkan dengan kesediaan untuk menjaga diri dan orang lain, penularan dan kematian lebih rendah.
Kedelapan, terjadinya wabah seperti covid-19 ini mengungkapkan perlunya ketahanan (resilience), baik ketahanan pribadi maupun ketahanan masyakat. Ketahanan berarti kemampuan untuk memulihkan diri ketika mengalami kesulitan atau masalah. Secara pribadi, ketahanan menuntut: (1) adanya kemampuan fisik untuk meredam dampak masalah, sehingga tidak berakibat fatal; (2) adanya kemampuan untuk menangangi emosi secara layak ketika menghadapi kesulitan atau masalah yang tidak diharapkan; (3) adanya kemampuan keuangan untuk menahan dampak ekonomi dari masalah yang terjadi; (4) adanya kemampuan logistik untuk menyediakan kebutuhan hidup selama terjadinya masalah.  
Ketahanan fisik berhubungan dengan ketahanan tubuh untuk menghadapi masalah yang terjadi, seperti serangan covid-19, atau bencana lainnya. Ketahanan fisik dapat ditingkatkan dengan nutrisi yang cukup, olahraga, dan tidur yang cukup.
Ketahanan emosi berhubungan dengan kemampuan untuk tetap tenang dalam menghadapi masalah. Ketahanan emosi dapat ditingkatkan dengan memahami bahwa shits happen, semua orang bisa kena masalah, tetapi masalah pasti berlalu kalau kita bertahan. Ketahanan emosi juga dapat ditingkat dengan meyakini bahwa kita memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah.  
Ketahanan ekonomi berkaitan dengan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan keuangan selama terjadi masalah. Ketahanan ekonomi menuntut setiap orang atau keluarga memiliki cadangan uang tunai senilai biaya hidup selama 3-6 bulan, atau ada juga yang mengatakan 3-6 bulan gaji.
Ketahanan logistik berhubungan dengan kemampuan untuk menyediakan kebutuhan dasar untuk hidup selama terjadinya masalah. Ini mungkin berarti kemampuan untuk menyimpan cadangan makanan dan kebutuhan dasar lainnya, atau kemampuan untuk mendapatkan atau membelinya.

Kamis, 22 Mei 2014

Pendidikan yang Menghargai Perbedaan



Membaca visi dan misi J & J, khususnya yang berkaitan dengan bidang pendidikan membuat aku  berpikir apakah JOKOWI pernah mengintip tulisan-tulisanku, baik di blog  (http://transformationallearninginstitute.blogspot.com/) maupun di halaman Facebookku.
Sudah bertahun-tahun aku mengusulkan dan memperjuangkan penghapusan ujian akhir nasional, dan mengusulkan dikuranginya beban kurikulum nasional dengan memberi kesempatan yang lebih besar untuk sekolah merancang muatan-muatan lokal yang lebih sesuai untuk kebutuhan anak.  J & J memasukan semua itu dalam visi dan misi mereka. Hal ini memberikan harapan segar bagi kemajuan pendidikan di Indonesia.
Sistem pendidikan yang ada sekarang, yang menekankan keseragaman dan standarisasi merupakan produk era pertanian dan era industri massal.  Pada era itu perkembangan produk baru berjalan sangat lambat, dan lebih mementingkan produksi dalam jumlah yang sebanyak-banyaknya.  Hal itu karena persaingan masih sedikit, dan perusahaan-perusahaan yang menguasai teknologi masih terbatas jumlahnya, sehingga pilihan produk masih terbatas.  Karena itu apapun kualitas produk yang ditawarkan akan dibeli oleh konsumen.  Pada era itu penyeragaman dan standarisasi merupakan hal yang penting dan sangat berguna, karena akan meningkatkan efisiensi.  Standarisasi akan memungkinkan komponen-komponen saling dipertukarkan, sehingga memudahkan produksi secara massal.
Pada era informasi dan industri kreatif sekarang ini, keadaan sudah jauh berbeda.  Jumlah perusahaan sudah terlalu banyak.  Persaingan begitu kuat.  Laju pengembangan produk sangat cepat.  Perusahaan dituntut untuk menciptakan produk baru, bukan lagi dalam hitungan puluhan tahun atau bahkan tahunan, tetapi semester.  Kegegalan untuk menciptakan produk baru dalam waktu yang singkat akan membawa konsekuensi yang besar terhadap kemajuan perusahaan, bahkan menentukan apakah perusahan akan bertahan hidup dalam beberapa tahun ke depan.  Kasus Black Berry yang hanya beberapa tahun yang lalu pernah merajai pasar telepon pintar dan sekarang dalam keadaan megap-megap merupakan contoh yang sangat jelas.
Untuk dapat bertahan dan bertumbuh di era ini diperlukan orang-orang yang mampu berpikir kreatif dan inovatif, orang-orang yang biasa berpikir mandiri, bahkan berani mengambil resiko ditolak oleh orang-orang di sekitarnya.  Selain itu orang juga harus mampu bekerja sama dengan semua golongan, karena skala tantangan yang akan semakin besar.  Hal ini jelas tidak dapat diharapkan dari sistem pendidikan yang sangat sentralistik, dengan kurikulum yang semuanya diatur dari pusat.  Bahkan guru-guru harus mengikuti pakem yang sudah ditetapkan oleh orang-orang yang tidak tahu keadaan di lapangan.  Orang-orang yang menyusun kurikulum tanpa mempertimbangkan perbedaan konteks sosial, budaya, ekonomi dan sebagainya. Orang-orang yang menyusun kurikulum di meja kerja yang nyaman, jauh dari gigitan nyamuk dan udara panas dan lembab.
Ditambah lagi penyeragaman cara evaluasi hasil belajar di seluruh Indonesia, dengan soal-soal pilihan berganda yang jelas-jelas mematikan inisiatif.  Jadi dari hulu ke hilir sistem pendidikan kita sudah dirancang untuk menciptakan anak-anak yang  serupa satu sama lain, yang seragam, yang standar.  Perbedaan tidak dihargai bahkan dilecehkan dalam sistem pendidikan seperti ini.  Kalau mau dianggap berhasil, anak harus memahami dan mengikuti pikiran guru, bahkan pikiran para penyusun kurikulum nun jauh di sana. 
Sistem pendidikan seperti ini yang saya sebut sebagai sistem pendidikan bonsai, di mana anak dibentuk seperti sebuah bonsai dibentuk oleh seorang pebonsai.  Anak ditekuk, dipangkas, bahkan dipatahkan kalau perlu, supaya bentuknya sesuai dengan keinginan sang ahli bonsai.
Hasil dari pendidikan seperti ini adalah anak yang bergantung, tidak mandiri, tidak berinisiatif, tidak menyukai perbedaan, tidak toleran dan rapuh.  Anak jadi sangat tergantung pada kelompok internalnya.  Fanatisme kelompok sangat tinggi.  Perbedaan dipandang sebagai ancaman, dan harus dicegah sebisa-bisanya, kalau perlu dengan kekerasan. Atau, kalau merasa tidak cukup kuat untuk memaksakan keinginan, bisa juga pakai puisi atau sindiran.  Bukti-bukti hasil pendidikan semacam ini dapat dengan mudah kita temukan dalam kehidupan kita sekarang ini: tawuran pelajar, perusakan rumah ibadah kelompok yang berbeda dari kita, dan seterusnya.  Silakan menambahkan daftar Anda sendiri.
Sistem pendidikan yang baru seharusnya menghilangkan penyeragaman.  Setiap sekolah diberi ruang seluas-luasnya untuk mengembangkan kurikulum yang paling sesuai dengan kebutuhan anak dalam konteksnya.  Hal ini bertujuan agar anak dapat hidup dengan berhasil dan bahagia karena memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang cocok dengan konteksnya.  Anak difasilitasi untuk mengembangkan bakat-bakat alaminya, bukannya dipaksa untuk berkembang serupa dengan teman-teman sekelasnya.  Anak juga didorong untuk menghargai anak-anak lain yang berbeda dari dirinya.  Guru juga menghargai perbedaan dan tidak memaksa anak memiliki pikiran yang sama dengan dirinya.  Dalam pendidikan seperti ini, perbedaan dianggap sebagai kekayaan, bukannya ancaman.  Hal ini karena perbedaan dianggap dapat memberikan lebih banyak pilihan dan membuka kemungkinan-kemungkinan baru.
Sistem pendidikan seperti ini yang saya sebut sistem pendidikan petani, di mana anak diperlakukan sebagai benih yang ditanam di tanah yang subur, disirami, dipupuk dan disiangi gulma yang ada di sekitarnya, supaya potensinya dapat diwujudkan sepenuhnya. Peranan guru yang utama adalah mendorong dan memfasilitasi anak belajar.  Anak sendiri yang akan mengembangkan bakat alaminya.
Hasil dari pendidikan seperti ini adalah anak yang berani berpikir mandiri, penuh inisiatif, inovatif, toleran dan sangat fleksibel, sehinggah sangat tangguh.

Selasa, 28 Januari 2014

RELEVANSI

Saya sering menanyakan kepada peserta pelatihan saya: "Mana yang lebih mudah, belajar berjalan atau belajar statistika?" Hampir semua peserta akan menjawab bahwa belajar berjalan lebih mudah daripada belajar statistika. Mereka mengajukan bukti dari kenyataan bahwa jauh lebih banyak orang yang dapat berjalan daripada yang pandai statistika. Saya akan bertanya lagi: "Kalau begitu mengapa jauh lebih mudah menulis program komputer (software) untuk statistika daripada membuat robot berjalan?"

Saya membandingkan kegiatan belajar berjalan dan kegiatan belajar statistika karena keduanya melibatkan komputasi yang cukup rumit. Untuk dapat berjalan otak seorang anak atau pogram komputer di dalam sebuah robot harus memperhitungkan beberapa variabel sekaligus: besar dan arah gaya gravitasi; bentuk permukaan jalan; bentuk, susunan dan posisi otot; posisi tubuh; posisi dan gerakan benda-benda lain; dan lain-lain. Lalu otak harus mempertimbangkan suatu tindakan atau tanggapan untuk mengatasi atau memanfaatkan semua aspek tersebut. Otak harus melakukan semua itu secara bersamaan. Jadi ketika belajar berjalan otak mempertimbangkan dan menghitung begitu banyak variabel sekaligus dalam waktu yang singkat. Itulah sebabnya anak yang berumur satu tahun atau orang tua yang baru mengalami stroke ketika belajar berjalan akan terlihat kaku dan tertatih-tatih. Itu karena otak harus memproses semua variabel itu sekaligus, dan otak belum terlatih untuk melakukannya, sehingga pemrosesan berjalan tersendat-sendat. Sedangkan ketika belajar statistika variabel yang dipertimbangkan sangat terbatas. Itulah sebabnya para programmer lebih mudah menulis program komputer untuk melakukan perhitungan-perhitungan statistika daripada untuk membuat robot berjalan. Hal ini terbukti juga dari kenyataan bahwa program komputer yang harus dikembangkan untuk membuat sebuah robot, seperti ASIMO, dapat berjalan jauh lebih rumit dan lebih besar daripada program komputer untuk perhitungan-perhitungan statistika.

Lalu mengapa kelihatannya lebih mudah bagi seorang anak untuk belajar berjalan daripada untuk belajar statistika? Jawabannya adalah relevansi. Kemampuan berjalan sangat penting bagi kehidupan seorang anak, sehingga sangat relevan baginya. Karena itu seorang anak akan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk belajar berjalan. Sedangkan ketika belajar statistika seorang anak biasanya tidak melihat relevansinya bagi kehidupannya, sehingga anak kurang termotivasi untuk mempelajarinya, walaupun secara implisit setiap individu melakukan perhitungan-perhitungan statistika dalam kehidupannya sehari-hari.

Pertimbangkan contoh lain: kemampuan manusia berkomunikasi memakai bahasa. Untuk dapat berkomunikasi memakai bahasa seseorang harus dapat memproses informasi yang disampaikan lawan bicara. Otak harus melakukan komputasi terhadap rangkaian frekuensi suara yang sampai kepadanya melalui telinga, dan memutuskan apa maknanya. Bayangkan berapa banyak kombinasi frekuensi yang harus dipertimbangkan otak, berapa banyak kombinasi kata-kata, berapa banyak kombinasi frasa, berapa banyak kombinasi kalimat. Otak juga harus mempertimbangkan nuansa pembicaraan, sesuatu yang tidak diucapkan, tetapi tersirat dari gerak tubuh dan raut muka lawan bicara. Sesudah memahami maksud lawan bicara, otak juga harus melakukan komputasi terhadap tanggapan yang harus diberikan. Otak harus mempertimbangkan tinggi rendahnya frekuensi suara, urutan dan kecepatan pengucapan. Lalu sesudah itu otak harus mengatur posisi lidah, gigi, bibir, pita suara, dan lain-lain. Bahkan otak juga harus mengatur raut muka dan postur tubuh yang sesuai untuk menyampaikan maksudnya. Dan semua komputasi itu harus dilakukan hanya dalam beberapa detik. Hal ini membuat seorang ahli kognitif berkata dengan penuh kekaguman: "Mempertimbangkan banyaknya variabel yang harus dipertimbangkan, sungguh mengagumkan bahwa kita dapat berkomunikasi!" Kenyataannya kita dapat berkomunikasi, kadang-kadang bukan hanya dalam satu bahasa, tetapi dalam dua atau lebih bahasa. Sungguh mengagumkan. Sampai sekarang belum ada komputer yang mampu berkomunikasi seperti manusia.

Kenyataan bahwa otak memiliki kemampuan untuk melakukan semua komputasi yang diperlukan untuk dapat berjalan dan untuk berkomunikasi dengan bahasa serta melakukan ketrampilan-ketrampilan yang lain, menunjukkan bahwa otak memiliki kemampuan yang sangat luar biasa. Otak mengandung kira-kira 100 miliar sel otak (neuron). Berdasarkan penelitian Henry Markram, diperlukan satu laptop untuk melakukan komputasi yang dilakukan sebuah neuron. Itu berarti kemampuan komputasi otak seorang anak setara dengan kemampuan 100 miliar laptop. Bayangkan apa yang dapat dilakukan otak dengan kemampuan seperti itu. Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa setiap anak terlahir sebagai jenius. Karena itu saya tidak setuju dengan Howard Gardner yang mengatakan bahwa anak lahir dengan kecerdasan majemuk (multiple inteligences), dan membatasi kecerdasan pada delapan macam kecerdasan saja. Menurut saya anak lahir dengan kecerdasan yang hampir tidak terbatas.

Jadi mengapa banyak anak kurang berhasil di sekolah? Ada beberapa alasan. Salah satu alasannya adalah karena anak merasa pelajaran-pelajaran yang dipelajari tidak relevan dengan kehidupannya. Perhatikan bahwa saya mengatakan merasa. Ini berarti bahwa persepsi anak sangat menentukan di sini. Mungkin saja beberapa pelajaran akan sangat menentukan keberhasilan seorang anak di masa depan, tetapi kalau seorang anak tidak merasa pelajaran tersebut relevan bagi kehidupannya, dia tidak akan termotivasi untuk mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Belajar memerlukan kerja otak yang sangat keras. Bayangkan kalau seorang anak merasa bahwa apa yang dilakukannya tidak relevan dengan kehidupannya.

Apakah itu berarti anak tidak usah mempelajari pelajaran-pelajaran yang seolah-olah tidak relevan bagi kehidupannya? Tentu anak perlu mempelajari apa yang akan berguna bagi kehidupannya kelak. Tetapi supaya anak berhasil mempelajarinya, anak harus merasakan relevansi pelajaran itu bagi kehidupannya sekarang. Berbagai penelitian pendidikan menunjukkan bahwa relevansi pelajaran sangat menentukan besarnya motivasi dan pada gilirannya menentukan tingkat keberhasilan anak didik mempelajarinya. Relevansi juga menentukan kemudahan anak memahami pelajaran, karena untuk informasi-informasi yang dianggap relevan anak sudah memiliki informasi-informasi yang dibutuhkan untuk memprosesnya, sehingga mengurangi beban kognitifnya.

Pendidik bisa saja mengatakan kepada anak bahwa pelajaran tertentu akan menentukan keberhasilan anak kelak, sehingga pasti relevan dengan kehidupannya, tetapi hal itu biasanya tidak efektif. Anak harus dapat merasakan sendiri relevasi pelajaran tersebut dalam kehidupannya. Karena itu salah satu tantangan lembaga pendidikan adalah membuat pelajaran-pelajaran yang diajarkan benar-benar relevan dengan kehidupan anak.

Salah satu cara untuk membuat pelajaran menjadi relevan adalah dengan mengintegrasikan pelajaran ke dalam pengalaman hidup sehari-hari anak. Hal ini berarti melakukan kontekstualisasi dengan lingkungan dan budaya masyarakat setempat. Lingkungan dan budaya setempat sangat menentukan jenis ketrampilan yang dikembangkan seorang anak. Michael Merzenich memberikan contoh bagaimana mudahnya seorang anak dari Sao Paolo, Brazil, untuk memainkan bola dengan kepalanya. Atau lihatlah betapa elegan tangan dan jari-jari anak-anak Bali melakukan gerakan tari atau memahat patung. Pendidik dapat memanfaatkan keuntungan ini dengan mengintegrasikan pelajaran dengan ketrampilan-ketrampilan "alami" anak.

Cara yang lain untuk membuat pelajaran relevan adalah dengan memasukkan pembelajaran dalam kegiatan yang paling relevan dengan anak, yaitu kegiatan bermain. Cara yang lain lagi adalah dengan melakukan bermain peran (role play), yang akan memberi anak kesempatan untuk merasakan kira-kira seperti apa pengalaman orang-orang yang terlibat dalam suatu peristiwa sejarah tertentu, atau melakukan suatu pekerjaan atau keahlian tertentu.

Jelas bahwa masing-masing pendidik perlu merancang dan menyusun bahan ajarnya sendiri yang sesuai dengan anak didik yang sedang dihadapinya. Dan jelas pula bahwa keberhasilan pendidikan seperti ini tidak akan dapat diukur melalui ujian nasional yang memukul rata semua anak di seluruh Nusantara yang penuh keragaman budaya dan lingkungan ini. Jadi langkah pertama untuk meningkatkan keberhasilan pendidikan adalah menghapuskan UAN. Ujian nasional memang diperlukan untuk bench-marking mutu pendidikan secara nasional. Tetapi ujian nasional sebaiknya hanya ditawarkan kepada masing-masing individu yang ingin mengetahui posisinya dibandingkan dengan standar nasional, bukan untuk menentukan kelulusan siswa.

MEMBANGUN RASA PERCAYA DIRI SISWA


Rasa percaya diri (self confident) merupakan komponen penting untuk kehidupan yang berhasil. Rasa percaya diri membuat orang berani mengambil inisiatif dan menerima resiko, sehingga orang berani memulai suatu kegiatan, proyek atau bisnis. Rasa percaya diri juga membuat orang lebih mudah dan lebih cepat pulih ketika mengalami kegagalan dalam usahanya. Karena itu salah satu tujuan penting pendidikan adalah membangun rasa percaya diri suswa.
Sayangnya sistem pendidikan kita yang memaksa siswa pasif dan lebih banyak mendengarkan tidak membantu siswa mengembangkan rasa percaya diri. Malahan siswa merasa bodoh mendengarkan guru mempertunjukkan pengetahuannya yang banyak. Pendidikan seperti ini akan menghasilkan anak-anak yang rendah diri, canggung dan tidak kompeten.
Hal ini sudah disadari oleh para pendidik di Amerika Serikat di awal tahun 1990-an.  Tetapi mereka salah menafsirkan self confident dengan self esteem.  Self esteem berarti anak menilai dirinya berharga pada dirinya sendiri. Rasa berharga ini merupakan hak yang diterima anak tanpa alasan apapun, hanya karena dia manusia.  Para pendidik di sana berpendapat bahwa anak yang memiliki self esteem tinggi akan lebih termotivasi untuk berusaha dan dengan demikian akan mempunyai peluang untuk berhasil dalam kehidupannya. Karena itu pendidik perlu mengembangkan self esteem anak.  Gerakan self esteem ini mendorong guru untuk memberika pujian sebanyak-banyaknya. Ada juga usulam agar anak mengulang-ulang afirmasi "I am the best. I am the best. I am the best...." atau "I am valuable...
I am valuable...I am valuable..."  
Penelitian selanjutnya ternyata menunjukkan bahwa usaha ini tidak memberikan hasil yang diharapkan. Pujian dan afirmasi yang berlebihan ternyata tidak terlalu berpengaruh terhadap rasa percaya diri anak. Afirmasi yang tidak diikuti dengan usaha hanya akan menghasilkan anak-anak yang delusioned (hidup dalam khayalan).
Rasa percaya diri juga tidak bisa ditumbuhkan dengan menjelek-jelekkan orang lain, supaya saya terlihat hebat. Hal ini dilakukan oleh beberapa sekolah yang menyatakan diri sebagai sekolah unggulan dan memandang rendah sekolah-sekolah yang bukan unggulan. Guru mungkin mau memotivasi siswa dengan menunjukkan betapa buruknya sistem pendidikan di sekolah-sekolah yang lain. Tetapi ternyata ini hanya akan menimbulkan kebencian dan kesombongan, tanpa pengaruh yang positif terhadap rasa percaya diri anak.
Rasa percaya diri yang sejati ditumbuhkan dengan mengembangkan ketrampilan atau kemampuan yang diperlukan untuk kehidupan. Untuk itu anak perlu berlatih bersama fasilitator atau coach yg kompeten, tetapi yang juga dapat menerima kegagalan sementara, sambil mengharapkan yang terbaik dari siswanya. Siswa dan coach harus menetapkan tujuan belajar yang sesuai untuk masing-masing anak, dan berkomitmen untuk mencapai tujuan itu walau berapa banyakpun kegagalan yang akan dialami dalam prosesnya. Inilah yang akan membantu membangun rasa percaya diri anak, yaitu komitmen untuk terus berusaha walaupun melalui banyak kegagalan. Proses yang terlalu mudah justru kurang efektif dalam mengembangkan rasa percaya diri.

Sabtu, 17 April 2010

Redefining Success

Success has traditionally been defined in terms of 1) beating others in some aspect of life, or 2) getting everything you desire. These definitions of success are problematic. They contain some inherent problems.

In the first definition, success is defined as winning life's races. It means that for each person winning, there must be one or more losing. Therefore, life can be described as a zero sum game. This is a very cruel situation, since it puts each of us in direct competition with each other. Others are enemies, or at least competitors, with some potential to destroy our chance of success, or, in contrast, to be conquered by us.

The second definition has a different problem. Defining success as getting, or, using jargon from "The Secret", manifesting all your desires, encourages an unrealistic demand for the fulfillment of unrestrained desires. It is self-centered and encourages the wasting of precious resources. The cost to humanity is enormous.

For this reason, we need a new definition of success. Here I want to suggest a new definition of success: making a contribution to humanity. In this definition, a successful person is a person who contributes to the improvement of human affairs. This definition encourages meaningful involvement in purposeful endeavour to improve humanity. This definition also enables each and every person to achieve success without hindering or even reducing the chance of others to become successful. Instead, someone’s success may help others to achieve similar success. For instance, Associated Content's efforts to help others to achieve success will ultimately bring success to AS. In addition, this definition will encourage individuals to improve the social as well as natural environment.

Defining success as making a contribution to humanity opens the possibility of each and every person achieving success, since each person can make contributions in countless ways. For example, some people can contribute by creating new products or inventing new ways of doing things. Others can contribute by supporting those who create or invent new products or new technologies. Some people can contribute to science, others contribute to the world's economy, and still others contribute to world peace. Some people can contribute to the physical welfare of others. Some people can contribute to the socio-economical welfare of others. Still other can contribute to the psychological and spiritual welfare of others. Some people can contribute their energy, others contribute their time, others contribute ideas, and still others contribute their resources. There is no limit to this.

Defining success as making a contribution to humanity will require us to redefine our own definition of success. Each of us can, and need, to define success in our own terms. What is it that I want to contribute? In what areas of life do I want to focus my efforts? How will I best use my abilities and talents to obtain the most significant results?

As mentioned above, defining success as making a contribution to humanity will help improve our world.

What a wonderful world it will be.

Selasa, 26 Januari 2010

APPRECIATIVE INQUIRY UNTUK PENGEMBANGAN DIRI

Kita hidup di era yang ditandai dengan perubahan yang sangat cepat dalam setiap bidang kehidupan. Perubahan yang cepat menuntut setiap individu untuk berubah.

Ada dua pendekatan dalam mengelola perubahan: (1) problem solving approach yang menekankan bahwa perubahan hanya dilakukan apabila ada masalah yang mengancam kelangsungan hidup atau menghambat aktualisasi diri. (2) developmental approach yang menekankan bahwa setiap individu perlu berkembang terus menerus walaupun tidak ada ancaman. Setiap individu perlu mengantisipasi setiap perkembangan dengan melakukan perubahan-perubahan, sehingga mengurangi kemungkinan timbulnya masalah, atau memperkecil dampak masalah yang mungkin timbul.

Salah satu contoh developmental approach adalah appreciative inquiry, yaitu sebuah pendekatan yang menawarkan proses untuk secara positif mengeksplorasi, secara kolektif berimajinasi, merancang, dan melangkah ke masa depan. AI dimulai dengan melihat kekuatan sumber daya yang dimiliki, dan memanfaatkan kekuatan tersebut untuk mencapai masa depan yang lebih baik.


Prinsip-prinsip Dasar Appreciative Inquiry

Ada delapan prinsip yang mendasari appreciative inquiry, yaitu:

1. Constructionist Principle: Pemikiran dan kata-kata menciptakan dunia. Bahasa yang kita gunakan membentuk realitas kita. AI sebagai sebuah metodologi untuk melaksanakan perubahan didasarkan pada kekuatan kata-kata untuk menciptakan realitas.

2. Simultaneity Principle: Menurut prinsip ini, penyelidikan dan perubahan bersifat simultan: penyelidikan menghasilkan perubahan. Perubahan terjadi pada saat kita mengajukan pertanyaan.

3. Poetic Principle: Salah satu cara yang paling kuat untuk mempengaruhi dunia adalah melalui metafora yang kita pilih untuk menggambarkan realitas. Misalnya, kita dapat mengambarkan kehidupan sebagai medan pertempuran atau sebagai sebuah perjalanan atau bahkan sebagai tarian. Setiap metafora secara cepat menstimulasi seperangkat gambaran yang hidup.

4. Anticipatory Principle: Kesuksesan dan kegagalan sangat bergantung pada gambaran masa depan yang kita bangun. Gambaran yang memberikan motivasi dapat mendorong tindakan yang berpengaruh, positif dan kolektif.

5. Positive Principle: Segala sesuatu di alam semesta ini ditarik menuju hal-hal yang positif. Pikiran yang difokuskan pada hal-hal yang positif memberikan pengaruh yang luar biasa dalam kehidupan. Emosi yang positif akan memberi inspirasi untuk melakukan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik.

6. The Wholeness Principle: Keutuhan memberikan kekuatan yang besar dan menghasilkan yang terbaik bagi orang-orang dan organisasi. Keutuhan muncul dari kemampuan untuk memahami, menerima dan menikmati perbedaan. Perbedaan justru dianggap sebagai kekuatan.

7. The Enactment Principle: Prinsip ini menyatakan bahwa untuk menjadi “sesuatu” kita harus bertindak seolah-olah “sesuatu” itu. Untuk benar-benar membuat sebuah perubahan kita harus “menjadi perubahan yang ingin kita lihat”, atau kita harus menjadi model untuk perubahan itu. Seperti apakah keadaannya ketika perubahan itu terjadi?

8. The Free Choice Principle: Pilihan bebas menghasilkan kekuatan. Orang akan menjadi lebih baik dan lebih berkomitmen kalau diberi kebebasan untuk memilih apa yang dapat mereka berikan dan bagaimana mereka memberi kontribusi. Kebebasan memilih menghasilkan antusiasme dan komitmen, dan mendorong kinerja yang lebih baik.


Langkah-langkah Appreciative Inquiry

Ada empat langkah dalam appraciative inquiry, yaitu: (1) discovery, (2) dream, (3) design, dan (4) delivery.

Tahap dicovery adalah tahap pencarian untuk menemukan yang terbaik dari apa yang telah terjadi atau dikerjakan. Tahap ini dimulai dengan penyusunan pertanyaan bagi wawancara AI dan menyusun panduan wawancara AI. Pertanyaan-pertanyaan AI ditulis sebagai penelaahan afirmatif ke dalam inti positif organisasi. Contoh pertanyaan yang dapat dipakai dalam tahap discovery adalah: Kapan saya merasa paling bangga dengan diri saya sendiri? Apa yang terjadi? Bagaimana situasinya? Siapa yang terlibat? Apa yang saya anggap paling bernilai dalam diri saya? Apa yang membuat saya tetap bersikap positif, bersemangat dan terinspirasi? Tiga hal positif apa yang saya harapkan akan terjadi dalam kehidupan saya?

Tahap dream adalah sebuah eksplorasi yang memberi kekuatan mengenai “apa yang mungkin”. Tujuan dari tahap dream ini adalah untuk mengidentifikasi dan menyebarkan gambaran-gambaran yang bersifat generatif, afirmatif, dan memberikan pengharapan di masa depan. Pada tahap dream individu berusaha menyusunan visi pribadi. Contoh pertanyaan yang dapat dipakai dalam tahap dream adalah: Bagimanakah gambaran kehidupan saya empat tahun yang akan datang? Bagaimana orang-orang akan tertarik untuk bekerja sama dengan saya? Mengapa orang-orang senang menjadi bagian dari usaha saya? Tiga kata apa yang dapat menggambarkan kehidupan saya empat tahun yang akan datang? Mengapa saya memilih tiga kata tersebut?

Tahap design melibatkan penentuan pilihan mengenai “apa yang seharusnya”. Tahap ini adalah tahap di mana terjadi penciptaan kembali atau transfomasi yang dilakukan secara sadar. Contoh pertanyaan yang dapat dipakai dalam tahap design adalah: Posisi/Karir apa yang paling tepat memaksimalkan hal-hal yang positif di dalam diri saya dan mempercepat tercapainya impian saya? Dengan siapa saja saya perlu membangun jaringan? Sumber daya apa saja yang diperlukan untuk mencapai impian saya? Dari mana saya dapat memperoleh sumber daya yang saya perlukan?

Tahap delivery/destiny memulai serangkaian tindakan yang mendukung terjadinya perubahan ke arah yang diimpikan. Contoh pertanyaan yang dapat dipakai dalam tahap design adalah: Tindakan-tindakan apa saja yang diperlukan guna mencapai apa yang saya impikan? Bagaimana saya dapat tetap bersemangat melakukan apa yang diperlukan?

Senin, 21 Desember 2009

RELEVANSI

Saya sering menanyakan kepada peserta pelatihan saya: "Mana yang lebih mudah, belajar berjalan atau belajar statistika?" Hampir semua peserta akan menjawab bahwa belajar berjalan lebih mudah daripada belajar statistika. Mereka mengajukan bukti dari kenyataan bahwa jauh lebih banyak orang yang dapat berjalan daripada yang pandai statistika. Saya akan bertanya lagi: "Kalau begitu mengapa jauh lebih mudah menulis program komputer (software) untuk statistika daripada membuat robot berjalan?"

Saya membandingkan kegiatan belajar berjalan dan kegiatan belajar statistika karena keduanya melibatkan komputasi yang cukup rumit. Untuk dapat berjalan otak seorang anak atau pogram komputer di dalam sebuah robot harus memperhitungkan beberapa variabel sekaligus: besar dan arah gaya gravitasi; bentuk permukaan jalan; bentuk, susunan dan posisi otot; posisi tubuh; posisi dan gerakan benda-benda lain; dan lain-lain. Lalu otak harus mempertimbangkan suatu tindakan atau tanggapan untuk mengatasi atau memanfaatkan semua aspek tersebut. Otak harus melakukan semua itu secara bersamaan. Jadi ketika belajar berjalan otak mempertimbangkan dan menghitung begitu banyak variabel sekaligus dalam waktu yang singkat. Itulah sebabnya anak yang berumur satu tahun atau orang tua yang baru mengalami stroke ketika belajar berjalan akan terlihat kaku dan tertatih-tatih. Itu karena otak harus memproses semua variabel itu sekaligus, dan otak belum terlatih untuk melakukannya, sehingga pemrosesan berjalan tersendat-sendat. Sedangkan ketika belajar statistika variabel yang dipertimbangkan sangat terbatas. Itulah sebabnya para programmer lebih mudah menulis program komputer untuk melakukan perhitungan-perhitungan statistika daripada untuk membuat robot berjalan. Hal ini terbukti juga dari kenyataan bahwa program komputer yang harus dikembangkan untuk membuat sebuah robot, seperti ASIMO, dapat berjalan jauh lebih rumit dan lebih besar daripada program komputer untuk perhitungan-perhitungan statistika.

Lalu mengapa kelihatannya lebih mudah bagi seorang anak untuk belajar berjalan daripada untuk belajar statistika? Jawabannya adalah relevansi. Kemampuan berjalan sangat penting bagi kehidupan seorang anak, sehingga sangat relevan baginya. Karena itu seorang anak akan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk belajar berjalan. Sedangkan ketika belajar statistika seorang anak biasanya tidak melihat relevansinya bagi kehidupannya, sehingga anak kurang termotivasi untuk mempelajarinya, walaupun secara implisit setiap individu melakukan perhitungan-perhitungan statistika dalam kehidupannya sehari-hari.

Pertimbangkan contoh lain: kemampuan manusia berkomunikasi memakai bahasa. Untuk dapat berkomunikasi memakai bahasa seseorang harus dapat memproses informasi yang disampaikan lawan bicara. Otak harus melakukan komputasi terhadap rangkaian frekuensi suara yang sampai kepadanya melalui telinga, dan memutuskan apa maknanya. Bayangkan berapa banyak kombinasi frekuensi yang harus dipertimbangkan otak, berapa banyak kombinasi kata-kata, berapa banyak kombinasi frasa, berapa banyak kombinasi kalimat. Otak juga harus mempertimbangkan nuansa pembicaraan, sesuatu yang tidak diucapkan, tetapi tersirat dari gerak tubuh dan raut muka lawan bicara. Sesudah memahami maksud lawan bicara, otak juga harus melakukan komputasi terhadap tanggapan yang harus diberikan. Otak harus mempertimbangkan tinggi rendahnya frekuensi suara, urutan dan kecepatan pengucapan. Lalu sesudah itu otak harus mengatur posisi lidah, gigi, bibir, pita suara, dan lain-lain. Bahkan otak juga harus mengatur raut muka dan postur tubuh yang sesuai untuk menyampaikan maksudnya. Dan semua komputasi itu harus dilakukan hanya dalam beberapa detik. Hal ini membuat seorang ahli kognitif berkata dengan penuh kekaguman: "Mempertimbangkan banyaknya variabel yang harus dipertimbangkan, sungguh mengagumkan bahwa kita dapat berkomunikasi!" Kenyataannya kita dapat berkomunikasi, kadang-kadang bukan hanya dalam satu bahasa, tetapi dalam dua atau lebih bahasa. Sungguh mengagumkan. Sampai sekarang belum ada komputer yang mampu berkomunikasi seperti manusia.

Kenyataan bahwa otak memiliki kemampuan untuk melakukan semua komputasi yang diperlukan untuk dapat berjalan dan untuk berkomunikasi dengan bahasa serta melakukan ketrampilan-ketrampilan yang lain, menunjukkan bahwa otak memiliki kemampuan yang sangat luar biasa. Otak mengandung kira-kira 100 miliar sel otak (neuron). Berdasarkan penelitian Henry Markram, diperlukan satu laptop untuk melakukan komputasi yang dilakukan sebuah neuron. Itu berarti kemampuan komputasi otak seorang anak setara dengan kemampuan 100 miliar laptop. Bayangkan apa yang dapat dilakukan otak dengan kemampuan seperti itu. Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa setiap anak terlahir sebagai jenius. Karena itu saya tidak setuju dengan konsep kecerdasan majemuk (multiple inteligences) Howard Gardner yang membatasi kecerdasan pada delapan macam kecerdasan saja. Pengkotak-kotakan kecerdasan seperti itu malahan tidak produktif. Menurut saya anak lahir dengan kecerdasan yang hampir tidak terbatas.

Jadi mengapa banyak anak kurang berhasil di sekolah? Ada beberapa alasan. Salah satu alasannya adalah karena anak merasa pelajaran-pelajaran yang dipelajari tidak relevan dengan kehidupannya. Perhatikan bahwa saya mengatakan merasa. Ini berarti bahwa persepsi anak sangat menentukan di sini. Mungkin saja beberapa pelajaran akan sangat menentukan keberhasilan seorang anak di masa depan, tetapi kalau seorang anak tidak merasa pelajaran tersebut relevan bagi kehidupannya, dia tidak akan termotivasi untuk mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Belajar memerlukan kerja otak yang sangat keras. Bayangkan kalau seorang anak merasa bahwa apa yang dilakukannya tidak relevan dengan kehidupannya.

Apakah itu berarti anak tidak usah mempelajari pelajaran-pelajaran yang seolah-olah tidak relevan bagi kehidupannya? Tentu anak perlu mempelajari apa yang akan berguna bagi kehidupannya kelak. Tetapi supaya anak berhasil mempelajarinya, anak harus merasakan relevansi pelajaran itu bagi kehidupannya sekarang. Berbagai penelitian pendidikan menunjukkan bahwa relevansi pelajaran sangat menentukan besarnya motivasi dan pada gilirannya menentukan tingkat keberhasilan anak didik mempelajarinya. Relevansi juga menentukan kemudahan anak memahami pelajaran, karena untuk informasi-informasi yang dianggap relevan anak sudah memiliki informasi-informasi yang dibutuhkan untuk memprosesnya, sehingga mengurangi beban kognitifnya.

Pendidik bisa saja mengatakan kepada anak bahwa pelajaran tertentu akan menentukan keberhasilan anak kelak, sehingga pasti relevan dengan kehidupannya, tetapi hal itu biasanya tidak efektif. Anak harus dapat merasakan sendiri relevansi pelajaran tersebut dalam kehidupannya. Karena itu salah satu tantangan lembaga pendidikan adalah membuat pelajaran-pelajaran yang diajarkan benar-benar relevan dengan kehidupan anak.

Salah satu cara untuk membuat pelajaran menjadi relevan adalah dengan mengintegrasikan pelajaran ke dalam pengalaman hidup sehari-hari anak. Hal ini berarti melakukan kontekstualisasi dengan lingkungan dan budaya masyarakat setempat. Lingkungan dan budaya setempat sangat menentukan jenis ketrampilan yang dikembangkan seorang anak. Michael Merzenich memberikan contoh bagaimana mudahnya seorang anak dari Sao Paolo, Brazil, untuk memainkan bola dengan kepalanya. Atau lihatlah betapa elegan tangan dan jari-jari anak-anak Bali melakukan gerakan tari atau memahat patung. Pendidik dapat memanfaatkan keuntungan ini dengan mengintegrasikan pelajaran dengan ketrampilan-ketrampilan "alami" anak.

Cara yang lain untuk membuat pelajaran relevan adalah dengan memasukkan pembelajaran dalam kegiatan yang paling relevan dengan anak, yaitu kegiatan bermain. Cara yang lain lagi adalah dengan melakukan bermain peran (role play), yang akan memberi anak kesempatan untuk merasakan kira-kira seperti apa pengalaman orang-orang yang terlibat dalam suatu peristiwa sejarah tertentu, atau melakukan suatu pekerjaan atau keahlian tertentu.

Jelas bahwa masing-masing pendidik perlu merancang dan menyusun bahan ajarnya sendiri yang sesuai dengan anak didik yang sedang dihadapinya. Dan jelas pula bahwa keberhasilan pendidikan seperti ini tidak akan dapat diukur melalui ujian nasional yang memukul rata semua anak di seluruh Nusantara yang penuh keragaman budaya dan lingkungan ini. Jadi langkah pertama untuk meningkatkan keberhasilan pendidikan adalah menghapuskan UAN. Ujian nasional memang diperlukan untuk bench-marking mutu pendidikan secara nasional. Tetapi ujian nasional sebaiknya hanya ditawarkan kepada masing-masing individu yang ingin mengetahui posisinya dibandingkan dengan standar nasional, bukan untuk menentukan kelulusan siswa.

Senin, 14 Desember 2009

Characteristics of Successful Persons

Before discussing further about some characteristics of successful persons, it is appropriate at this point to propose a definition of a successful person. In my opinion, a successful person is someone who can fulfill his/her life purpose, someone who can achieve his/her goals in life, someone who near the end of his/her life can say: "It is finished!"

After reviewing biographies of some successful individuals, I try to summarize some characteristics shared by these individuals. This list of characteristics is admittedly not exhaustive, rather focus only on a few most significant ones.

1. Confidence

Being confident means believing that you can do what you want to do, you can achieve what you want to achieve. Confidence is something that motivate people to do something. Some times it is called self-efficacy, the belief that the individual can do the works needed for their success in a certain job or task. Before starting any career or business or life projects, these individuals have confidence that they can achieve whatever goals they set in their lives.

Contrary to what most people may believe, it may not necessarily self-confidence, that is, confidence in yourself, that bring success. It may be confidence in the Higher Inteligence you may call God. We can cite lots of evidences of people who did not have lots of confidence in themselves, but achieve great things because they believe in God. Mother Theresa is one of such people.

Whatever or whoever you are confident in, you must believe that you can achieve the goals that you set for yourself. There are only few things that you cannot achieve if you are willing to work hard to achieve your goals. There always be some doubts, but just move on. Every time you solve a problem and achieve a goal, however small, you streghten your self-confidence or your confidence in God.

2. Courage

Fear is the biggest obstacle in achieving any goal. Fear keep people from trying anything new. Fear keep people from taking the action. Without action, there will not be any result.

The biographies of successful individual show that these individuals were able to work through or conquer their fears. Some expert said that these individuals are not fearless. Rather they work through or conquer their fears every time they faced them.

You have to fight and conquer your fears. Make the move, and be ready to face challenges. Keep in mind that failure is never final nor fatal.

3. Caring

These individuals did not focus on themselves. They have compassion toward others. In many cases, their actions were motivated by their concern for others.

In addition they pay attention to people. They listen to their ideas, and attend to their needs.

4. Commitment

Successful people commit themselves in something they consider important. Some of them commit themselves to finding new knowledge or new medicines or new way to do something. Some of them commit themselves to helping others or keeping the environment safe. In short they focul their energy in the thing they commit to.

Life has its ups and downs. During the ups, it seems easy to navigate through life. But during the downs, where direction seems uncertain and storm tossing your ship severely, you may be tempted to give up. During those times, you will need commitment, the decision that you will keep following the course you have set out. Commitment will sustain you during the hard times.

5. Competence

The first thing you need to ask youself before embarking on a career or a business or a life project is: What am I good at? What skills do I want to develop?

We need to ask and answer these question, because it will lead to what career you want to take. You will want to start a career which you have competencies in. Competent people will always be able to find solution to problems.

6. Creativity or Inventiveness

Successful individuals seldom stuck on a poblem. They were able to find solutions to the problems they face. In trying to solve the problems they were facing, these inividual very often used unconventional ways. They did not let traditional beliefs and ways put limit to their actions.

Often these individuals tried new things, just to see if they work.

7. Curiosity

Many of these successul individuals develop a passion for learning. They learn continuously.

There is always new ways to do things more effectively. Try out new ideas and see if they work, but be prepared to accept if they fail, and learn from it too.

Senin, 07 Desember 2009

METAFORA

Metafora adalah suatu gambaran yang kita pilih untuk menggambarkan keadaan, sifat atau kegiatan manusia. Misalnya, kita dapat menggambarkan pendidikan sebagai sebuah perlombaan atau bahkan sebuah medan pertempuran. Tetapi kita juga dapat menggambarkan pendidikan sebagai sebuah perjalanan, atau bahkan sebuah tarian.

Setiap metafora secara cepat menstimulasi seperangkat gambaran yang hidup dan sangat berpengaruh, dan menentukan sikap dan tingkah laku kita selanjutnya. Misalnya, kalau kita menggambarkan pendidikan sebagai sebuah perlombaan atau pertempuran, dalam pikiran kita akan segera muncul gambaran orang-orang yang melakukan segala usaha untuk memenangkan perlombaan atau pertempuran itu. Dalam metafora ini, setiap orang adalah saingan atau musuh yang harus dikalahkan. Semua pihakpun kemudian bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan gambaran ini: bersaing dan berusaha saling mengalahkan baik antara sesama peserta didik maupun antara peserta didik dengan pendidik.

Sebaliknya, kalau kita menggambarkan pendidikan sebagai sebuah perjalanan, segera muncul gambaran orang-orang yang melakukan perjalanan untuk mencapai tujuan bersama-sama, mungkin sambil bercakap-cakap dan berinteraksi dalam perjalanan itu. Ada tujuan bersama. Dan sambil menuju tujuan itu setiap orang membagikan cerita hidupnya dan mendengarkan cerita hidup teman seperjalanannya.

Kalau kita menggambarkan pendidikan sebagai sebuah tarian, segera muncul gambaran orang-orang yang bergerak mengikuti irama musik yang mengiringi tarian, dan orang-orang yang bergerak harmonis, yang seorang bergerak ke depan yang lain mundur mengimbangi, dan selanjutnya bertukar gerakan. Setiap orang mengisi atau melengkapi gerakan yang lain, sehingga tercipta keindahan karena harmoni gerakan mereka. Semua pihakpun kemudian bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan gambaran ini: berinteraksi dan bekerja sama dalam proses pembelajaran.

Metafora yang pertama, yaitu pendidikan sebagai sebuah perlombaan atau medan pertempuran, rasanya paling banyak di pakai dalam sistem pendidikan kita. Hal ini ditandai dengan penekanan yang sangat besar pada evaluasi hasil belajar daripada proses belajar itu sendiri. Selain itu, penilaian keberhasilan seorang siswa sering ditetapkan berdasarkan kedudukan nilai ujiannya di antara siswa-siswa yang lain. Akibatnya, lihatlah betapa menjamur pusat-pusat bimbingan belajar atau bimbingan tes, yang menunjukkan bahwa setiap siswa didorong untuk mengalahkan siswa yang lain dengan memakai cara-cara yang lebih cerdik. Lihatlah juga betapa pemerintah, yang dalam hal ini diwakili Departemen Pendidikan Nasional (DEPDIKNAS) ngotot mempertahankan Ujian Akhir Nasional (UAN) yang bermasalah itu.

Metafora ini menempatkan anak didik dalam mode bertahan hidup (survival mode) yang sudah terbukti tidak mendukung pembelajaran yang bermakna.

Metafora yang kedua, yaitu pendidikan sebagai sebuah perjalanan atau tarian, menggambarkan pendidikan sebagai wadah untuk mengasah diri, untuk berkontribusi terhadap kehidupan. Ini mungkin sebuah utopia, tetapi sesuatu yang layak untuk dipertimbangakan, karena metafora ini menempatkan anak didik dalam mode ekplorasi (exploration mode) yang sudah terbukti sangat mendukung pembelajaran dan berkembangnya kreativitas anak.

Dalam metafora ini, sistem pendidikan harus memberikan wadah dan kesempatan untuk anak melakukan ekplorasi, baik terhadap dirinya sendiri, maupun terhadap dunianya. Ekplorasi yang dilakukan dengan rasa aman, akan memberikan kesempatan anak menemukan tentang dirinya sendiri dan dunianya. Anak akan mengetahui kemampuannya dan kemungkinan-kemungkinan yang ditawarkan oleh dunianya. Dengan demikian anak akan diperlengkapi untuk hidup dan menghidupi dunianya.

Sistem pendidikan juga seharusnya mewadahi dan mempersiapkan seorang anak untuk berkontribusi terhadap kemanusiaan. Jadi bahkan semasih dalam masa pendidikan, di sekolahnya, anak diajak untuk melihat potensi dirinya dan potensi teman-teman sebayanya, dan memikirkan apa yang bisa diberikannya untuk mencapai tujuan bersama. Hal ini akan menyiapkan anak untuk juga memikirkan bagaimana sebagai orang dewasa dia akan bisa berkontribusi terhadap pencapaian tujuan kemanusiaan, yang jauh lebih besar daripada tujuan pribadinya.

Lebih jauh lagi, pendidik tidak lagi dipandang sebagai satu-satunya sumber informasi dalam belajar, tetapi sebagai teman seperjalanan yang juga terus berkembang melalui dialog atau interaksi yang membangun dengan anak didiknya. Jadi tidak akan ada lagi masalah tentang pengembangan diri guru seperti yang terjadi sekarang ini, karena setiap proses pembelajaran menyediakan wadah dan kesempatan bagi guru untuk terus mengembangkan diri. Tentu saja guru masih perlu berdialog dan berinteraksi dengan pendidik-pendidik yang lain untuk mendukung pengembangan diri yang berkesinambungan, tetapi bahkan di sinipun dialog atau interaksi tersebut adalah antara teman-teman seperjalanan.

Seorang teman pernah berkomentar tentang metafora pendidikan sebagai perjalanan ini: "Cumi, cuma mimpi". Dia mungkin benar. Tetapi saya memilih untuk berani bermimpi.